Minggu, 10 Juni 2012

Aku mencintai ibu


AKU MENCINTAI IBU
#cerpen#
Aku terlahir dalam keluarga yang tak sempurna. Aku tak mengenal sosok ayahku. Karena ia telah kembali pada sang Kholic ketika aku dalam kandungan. Aku bisa hidup sederhana bahkan amat sederhana.
          Setiap langakah. Ku telusuri sudut kota. Bermodal botol berisi krikil aku melantun nada sumbang mengharap sepeser rupiah dari para dermawan.
          Suatu sore tatkala sang mentari telah kembali keperistirahatnnya, langkahku terhenti di pintu rumah kami, rumah yang lebih pantas disebut gubuk. Terdengar suara lirih mendayu melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an yang membuatku mengevaluasi setiap hal yang telah ku perbuat. Terlihat dari sela-sela pintu sesosok wanita renta menggunakan mukena tua nya. Hatiku berkata, aku ingin membahagiakannya, izinkan aku melihat senyumnya dan pancaran indah dari mata nya.
          Ibu menyambut kedatanganku, lalu tangannya membelai rambutku seraya berkata, “Nak mari kita sholat.” “Ya Allah, hanya kepada-mu aku meminta, hapuslah dosa-dosa kami, ya allah izinkan hambamu ini membahagiakan orang tua ku. Beri ia karunia dan anugerahmu Tuhan. Aminnnn … “ku akhiri do’a di dalam sujudku.
          Hari ini aku akan mencari uang, lalu kan ku beli sebuah muken auntuk ibu. Bermodal niat dan semangatku telusuri setiap jalan dengan alunan-alunan nada yang tak seindah purnama. Cucuran keringan yang mengalir di pelipisku menjadi bukti betapa aku menyayangimu ibu.
          “Alhamdulillah, terima kasih ya allah risky yang engkau berikan kepada ku, aku akan membelikan sebuah mukena untuk ibu.”
          Aku berlari sekuat dayaku, dan akhir nya mukena yang aku impikan untuk ibu telah ada di tanganku.
          Bersenandung ria kuarungi jalan menuju rumah, dengan wajah berbinar membayangkan sebuah senyuman indah di wajah ibu telah menyambutku.
   Aku tersentak saat mataku melihat keramaian orang disekeliling rumahku.
“rumahku….”   
“tidak…” 
Rumahku telah habis terbakar si jago merah.
“ibu…dimana ibu ?? dimana ??”
Dan aku harus menyadari, ibuku sudah tidak ada dibumi ini, ibu ikut terbakar bersama rumah dan seisinya.
Tetesan air mataku tak terkendali saat melihat sosok wanita terbakar kaku yang memeluk erat al-qur’an.                        

               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar