AKU MENCINTAI
IBU
#cerpen#
Aku terlahir dalam keluarga yang
tak sempurna. Aku tak mengenal sosok ayahku. Karena ia telah kembali pada sang
Kholic ketika aku dalam kandungan. Aku bisa hidup sederhana bahkan amat
sederhana.
Setiap
langakah. Ku telusuri sudut kota. Bermodal botol berisi krikil aku melantun
nada sumbang mengharap sepeser rupiah dari para dermawan.
Suatu
sore tatkala sang mentari telah kembali keperistirahatnnya, langkahku terhenti di
pintu rumah kami, rumah yang lebih pantas disebut gubuk. Terdengar suara lirih
mendayu melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an yang membuatku mengevaluasi setiap
hal yang telah ku perbuat. Terlihat dari sela-sela pintu sesosok wanita renta
menggunakan mukena tua nya. Hatiku berkata, aku ingin membahagiakannya, izinkan
aku melihat senyumnya dan pancaran indah dari mata nya.
Ibu
menyambut kedatanganku, lalu tangannya membelai rambutku seraya berkata, “Nak
mari kita sholat.” “Ya Allah, hanya kepada-mu aku meminta, hapuslah dosa-dosa
kami, ya allah izinkan hambamu ini membahagiakan orang tua ku. Beri ia karunia
dan anugerahmu Tuhan. Aminnnn … “ku akhiri do’a di dalam sujudku.
Hari
ini aku akan mencari uang, lalu kan ku beli sebuah muken auntuk ibu. Bermodal niat
dan semangatku telusuri setiap jalan dengan alunan-alunan nada yang tak seindah
purnama. Cucuran keringan yang mengalir di pelipisku menjadi bukti betapa aku
menyayangimu ibu.
“Alhamdulillah,
terima kasih ya allah risky yang engkau berikan kepada ku, aku akan membelikan
sebuah mukena untuk ibu.”
Aku
berlari sekuat dayaku, dan akhir nya mukena yang aku impikan untuk ibu telah
ada di tanganku.
Bersenandung
ria kuarungi jalan menuju rumah, dengan wajah berbinar membayangkan sebuah
senyuman indah di wajah ibu telah menyambutku.
Aku tersentak saat mataku melihat keramaian orang disekeliling rumahku.
“rumahku….”
“tidak…”
Rumahku telah habis terbakar si
jago merah.
“ibu…dimana ibu ?? dimana ??”
Dan aku harus menyadari, ibuku
sudah tidak ada dibumi ini, ibu ikut terbakar bersama rumah dan seisinya.
Tetesan air mataku tak terkendali
saat melihat sosok wanita terbakar kaku yang memeluk erat al-qur’an.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar